Review Bastard
Band of music and movie enthusiast. Music review, movie review. A place for us to have some fun and knowledge.
Imagine: John Lennon, pemikiran serta kehidupan seorang pejuang perdamaian.
Saya tidak akan berkompetisi dengan kalian para Beatles guru, sudah barang tentu kalian lebih paham atas apa yang terjadi puluhan tahun lalu dengan The Beatles dan masing-masing personilnya. Termasuk John Lennon. Dokumenter ini mengantarkan saya ke pintu awal perkenalan dengan Beatles, karena ini tentang John, maka saya pikir saya berada di pintu yang benar.
Imagine adalah dokumenter tentang John sebelum Beatles, dengan Beatles dan setelah Beatles. Imagine merupakan catatan kehidupan pribadi John tentang ideologi dan mimpi-mimpinya. Tonton dokumenter ini untuk mengetahui cara pandang John mengenai berbagai hal yang terjadi baik itu kepada kehidupan pribadinya maupun dunia dengan semua keberagamannya, semuanya tersirat jelas dalam dokumenter ini.
Lantas tentu saja hubungan John dengan orang-orang terdekatnya dan fans. Satu hal menonjol adalah hubungan John dengan Yoko Ono yang dibahas sangat dalam dan mendetail, yang kemudian membuka perspektif baru bagi saya pribadi mengenai sosok John Lennon dan banyak hal yang dilakukan mereka setelah bersama.
Dokumenter yang bagus dan lengkap, mulai dari John kecil sampai dengan setelah kematiannya. Cerita dari seorang figur luar biasa, yang gaung pemikirannya masih terdengar sampai sekarang. Dokumenter ini dibuat 8 tahun setelah John meninggal, karya Andrew Solt ini kaya sekali dengan footage-footage pribadi John dan, uniknya, dinarasi oleh wawancara-wawancara John dengan berbagai media. Lantas akan kalian temui banyak footage dari konser-konser Beatles dan solo John pribadi setelah Beatles, dan footage-footage langka seperti versi akustik dari Real Love yang tidak pernah dirilis sebelumnya sampai Beatles mengeluarkan Anthology 2 tahun 1996 yang lalu. Tepat satu bulan yang lalu (9 Oktober) John seharusnya berulangtahun untuk yang ke 71 kalinya. Selamat ulang tahun, John! And yes, war is over if we want it.
Berhubung sulit sekali menemukan trailer yang bisa diembed, berikut saya sertakan klip dari single John dengan judul yang sama:
No Distance Left To Run, a documentary about Blur.

No Distance Left To Run adalah sebuah dokumenter yang dibuat pada musim panas 2009 lalu ketika Blur reuni setelah berpisah selama hampir 7 tahun dan menggelar tour di beberapa kota di Inggris. Blur adalah Britpop, bicara Britpop tentu saja harus bicara Blur, namun di tengah-tengah dokumenter akan kita lihat bagaimana sebutan Britpop itu sangat mempengaruhi band terutama sang gitaris Graham Coxon.
Banyak cerita yang disampaikan dalam dokumenter ini yang belum diketahui publik. Tentu saja mereka bicara sejarah, disusun dalam rangkaian flashback yang diselipkan diantara lagu perlagu selama tur reuni mereka. Bagaimana Damon Albarn memulai Blur, persahabatan yang terjalin di antara keempat personilnya, persahabatan Alex James dengan Graham yang menginspirasinya untuk menulis Bit Of A Blur, sosok personil paling kalem Dave Rowntree, cerita sebenarnya dibalik perseteruan mereka dengan Oasis, dan terutama bagaimana cerita sesungguhnya mengenai perpisahan mereka setelah Think Tank.
Sajian rutin sebuah dokumenter musik ada di sini, eksploitasi emosi per personil serta drama depresi orang perorang barang tentu jadi bahan jualan. Jangan lupa banyak footage yang tidak pernah dipublish sebelumnya, lantas kalau kalian beruntung menemukan DVDnya, ada tayangan konser terbesar pertama mereka paska reuni di Hyde Park London pada DVD ke 2. Dokumenter ini merupakan sindiran untuk mereka yang menganggap Blur adalah Damon Albarn seorang, juga sebagai jawaban atas penghakiman publik yang memihak antara Oasis dan Blur di pertengahan ‘90an lalu. Dokumenter ini koleksi berharga untuk mereka yang merasa terpengaruh oleh Blur serta era ‘90an pada umumnya.
Sirens (2011)
Creator: Brian Fillis | Broadcast on: Channel 4 | First screened on 27 June 2011.
Mau tahu bagaimana petugas ambulans bekerja di Leeds (UK) sana? Sirens mungkin bukan referensi yang tepat untuk kalian yang gemar melihat dari sudut teknis, tapi untuk yang mencari drama komedi cerdas Sirens adalah pilihan yang tepat. Dibuat berdasarkan cerita seorang EMT bernama Tom Reynolds yang dibukukan oleh Brian Kellett, Sirens bertutur tentang kehidupan sosial para teknisi ambulans baik itu saat mereka bekerja maupun ketika mereka menjalani keseharian di luar pekerjaan.
Cerita dituturkan oleh Stuart Bayldon (diperankan Rhys Thomas), seorang EMT (Emergency Medical Technician) senior yang mempunyai isu mengenai masa lalunya dengan sang ayah. Stuart di sini adalah sosok cerdas yang akan memberikan penonton sudut pandang baru yang seringkali terasa unik, dalam setiap episodnya Stuart lah yang memperkenalkan kita terhadap budaya serta kehidupan sosial di UK sana. Isu-isu sosial yang umum ada di UK terpapar dalam enam episod Sirens, seperti isu gay misalnya. Ashley Greenwick (diperankan Richard Madden) adalah teman satu shift Stuart yang gay sekaligus teman dekatnya, dengan mudahnya Ashley gonta-ganti pasangan atas dasar pengalihan dari ketertarikannya terhadap Stuart yang straight.
Dua tokoh utama lain juga memiliki isu yang cukup mewakili kehidupan sosial UK, Sgt. Maxine Fox (diperankan Amy Beth Hayes) dan Rachid Mansaur (diperankan Kayvan Novak). Keduanya masing-masing merupakan penggambaran dari prototip orang-orang yang tinggal di sana dengan profesi tertentu. Maxine misalnya, berbeda dengan Ashley yang dengan mudahnya mendapatkan teman kencan tapi enggan berkomitmen, Maxine adalah seorang polisi perempuan yang memiliki isu asmara karena statusnya sebagai polisi. Sementara Rachid adalah seorang keturunan Arab yang tergolong mampu karena keluarganya, dia mencoba untuk beradaptasi dengan gaya hidup pribumi yang sederhana.
Secara keseluruhan Sirens adalah hiburan menarik untuk penonton, konflik sosial yang dibangun dengan natural mampu memberikan warna terhadap topik minoritas yang diusung. Wawasan tentu saja sajian utama Sirens, walaupun sekali lagi bukan dari sisi teknis. Tayangan bagus, sayang harus berhenti sampai musim satu saja. Atau malah justru karena itu Sirens jadi spesial?
Seattle Sound Mixtape
Seattle Sound Mixtape
Grunge (kadang-kadang disebut juga Seattle sound) adalah sebuah sub genre dari rock alternatif yang muncul pada pertengahan 1980-an di negara Amerika Washington, khususnya di wilayah Seattle. Terinspirasi oleh punk rock, heavy metal dan indie rock, grunge umumnya dikenali melalui suara distorsi gitar yang berat dan lirik melankonis atau apatistik.
Gerakan awal grunge mulai terlihat pada akhir tahun 1980-an di sekitar Seattle melalui label independen Sub Pop. Grunge menjadi sukses secara komersial pada paruh pertama tahun 1990-an, terutama karena dirilisnya Nevermind oleh Nirvana dan Ten oleh Pearl Jam. Keberhasilan band-band ini meningkatkan popularitas rock alternatif dan membuat grunge menjadi bentuk musik yang paling populer pada waktu itu. Namun, banyak band grunge tidak nyaman dengan popularitas. Meskipun banyak band grunge yang bubar atau menghilang dari pada akhir 1990-an, pengaruh mereka terus memiliki dampak bagi perkembangan musik rock modern selanjutnya.
Source: Wikipedia
Pearl Jam, Nirvana, Mudhoney, Soundgarden, Green River, Screaming Trees, Alice In Chains, and Mother Love Bone.
Unduh dengan tweetmu melalui tautan di bawah ini:

