Kekedapan Cahaya
Wajah, wajah penuh abstraksi tergeletak di sana, dibingkai sebuah jalanan kota dengan gedung-gedung pencakar langit di kiri-kanannya. Sungguh ini sebenarnya keindahan boleh kita sebut, tapi tidak begitu ketika menyangkut hidup. Ah, kehidupan sungguh membuat kita serius, bukan? Kamu bilang kamu ingin di sana saja, ingin berimajinasi saja, berbagi mimpi seperti kita biasanya. Semua tampak indah, ujarmu.
Kedua tangan ditempatkan di kedua sisi kepalaku, diangkatnya, agar dagu berada di atas seperti dia selalu berujar. Dibilangnya aku tidak pernah sekecil apa yang aku pikirkan. Dibilangnya aku aku adalah segalanya, seseorang yang akan dia gantungi untuk kehidupan. Seseorang yang akan membimbingnya dalam kehidupan. Ah, sungguh kembali kepada kehidupan. Sesuatu yang serius, yang tidak dapat dimaini macam belasan barang elektronik yang bersuara itu, yang menayangkan kehidupan dalam sebuah kotak kecil itu.
Dan dagu ini tidak pernah benar-benar terangkat, banyak pertimbangan ujarku. Ada dunia yang jauh lebih bersinar di sana, di tempat yang akan kita lewati nanti. Dan aku tidaklah pernah dapat membayangkan apa yang akan terjadi ketika berada di sana, terlebih bersamanya, bersama perempuan yang memang mampu mengimbangi dunia itu. Perempuan yang memancarkan juga cahaya.
Itulah kamu, ucapnya. Kesal dia mendapati aku yang selalu merasa kedap cahaya. Kamu mengingkari kepercayaanmu dia bilang, Tuhan yang kamu agungkan itu menciptakanmu sama dengan lainnya, menciptakanmu dengan cahaya masing-masing yang fungsinya masing-masing pula. Itu ada di sana, dan menurutnya aku hanya tidak ingin orang lain menyadari, aku tidak menginginkannya melihat tembus ke dalam, aku tidak mempercayainya. Dan itu menyulitkannya untuk juga percaya, untuk juga memberikan apa yang seharusnya dimiliki setiap pasangan. Itu pikirnya, itu yang selama ini bergelantungan di kepalanya.
